Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Areal persawahan Gapoktan Sumber Agung di Kecamatan Suoh.

Oleh:
Uswatul Hasanah

Sektor pertanian seperti komoditi tanaman padi merupakan salah sumber penghasilan bagi masyarakat di Pekon Sumber Agung, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Fakta ini dibuktikan dengan luasnya hamparan sawah yang terbentang di wilayah, yang bersinggungan langsung dengan Taman Nasioanal Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Areal persawahan itu menjadi tempat bagi masyarakat, khususnya petani unutk menggantungkan hidup, menaruh harapan, dan mewariskan pengetahuan turun-temurun.

Sehingga sawah menjadi denyut nadi ekonomi, sekaligus cermin kearifan lokal yang terus bertahan di tengah gempuran modernisasi pertanian.

Menyadari besarnya peran pertanian dalam kehidupan masyarakat, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sumber Agung mengembangkan praktik budidaya sawah yang lebih ramah lingkungan.

Mereka menerapkan pertanian organik dengan memanfaatkan Pupuk Organik Cair (POC) dan Pupuk Hayati Cair (PHC).

Langkah ini menjadi titik tolak bagi petani untuk beralih dari pola budidaya konvensional menuju sistem yang lebih memperhatikan kesuburan tanah, kesehatan tanaman, dan keberlanjutan lingkungan.

Penggunaan pupuk anorganik secara berlebihan dalam jangka panjang, dapat membuat tanah menjadi keras sehingga sulit diolah.

Hadirnya pupuk organik menjadi solusi untuk mengurangi dampak negatif pupuk kimia sekaligus memperbaiki sifat fisik, kimia, maupun biologis tanah. Inilah yang mendasari tekad petani Sumber Agung.

Pengembangan sawah organik di Sumber Agung berawal dari kegelisahan petani terhadap menurunnya produktivitas lahan, akibat pemakaian pupuk kimia secara terus-menerus.

Mereka mencari cara pengelolaan lahan yang tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga menjaga kondisi tanah agar tetap produktif dalam jangka panjang.

Teori pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) menegaskan, jika sistem produksi pangan harus mampu memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Prinsip ini tercermin dalam keputusan petani Sumber Agung untuk mulai beralih ke budidaya organik. Penggunaan POC dan PHC menjadi bagian dari proses transformasi tersebut.

POC merupakan larutan hasil fermentasi bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, limbah organik, kotoran hewan dan bahan alami lainnya. Dengan kelebihan mudah diserap, serta melepaskan nutrisi secara bertahap dan berkelanjutan.

Sementara PHC berisi mikroorganisme hidup yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Bahkan setelah menggunakan PHC, terbukti memberikan perubahan positif.

Petani Sumber Agung mulai merasakan daun tanaman padi menjadi lebih hijau, batang lebih kuat, dan pertumbuhan bulir lebih baik.

Bagi petani Sumber Agung, penerapan bahan organik bukan sekadar mengganti pupuk kimia dengan pupuk alami. Tetapi mereka juga menjadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar untuk memahami tanah adalah organisme hidup yang wajib mereka lestarikan, bukan sekadar tempat menanam.

Pendekatan ini sejalan dengan teori agroekologi yang memandang pertanian sebagai ekosistem utuh, di mana kesehatan tanah, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan lingkungan menjadi fondasi produktivitas jangka panjang.

Tanah yang sehat mampu mendukung pertumbuhan tanaman sekaligus menjaga produktivitas sawah untuk musim tanam berikutnya.

Petani mulai mengamati perkembangan tanaman, kondisi tanah, dan reaksi tanaman terhadap perlakuan yang sengaja mereka berikan selama masa budidaya. Proses ini memberi pengalaman baru bagi Gapoktan Sumber Agung, karena dapat belajar langsung dari kondisi sawah.

Berbagai pengalaman selama proses budidaya kemudian menjadi bahan diskusi antarpetani untuk menemukan cara yang paling sesuai dengan kondisi lahan mereka.

Keberadaan Gapoktan Sumber Agung memainkan peran penting dalam mendorong proses pembelajaran kolektif tersebut. Melalui kegiatan bersama, petani tidak hanya fokus pada hasil panen.

Tetapi juga saling berbagi pengetahuan tentang mengelola sawah, menggunakan POC dan PHC, memelihara tanaman, serta menghadapi berbagai kendala selama budidaya.

Jadi setiap individu belajar tidak hanya dari pengalaman langsung, tetapi juga melalui pengamatan dan interaksi dengan orang lain. (Social Learning Theory: Albert Bandura).

Bagi masyarakat Sumber Agung, pengembangan sawah organik juga menyimpan harapan besar terhadap peningkatan ekonomi petani. Data menunjukkan bahwa petani organik di Suoh dapat menekan biaya produksi.

Lebih dari sekadar penggunaan POC dan PHC, semangat petani Sumber Agung menunjukkan adanya upaya untuk membangun cara bertani. Agar lebih memperhatikan hubungan antara produktivitas, kesehatan tanah dan kelestarian lingkungan.

<p>Sawah menjadi ruang belajar bersama, sebuah laboratorium hidup bagi petani untuk mencoba, mengamati, mengevaluasi dan mengembangkan praktik yang sesuai dengan kondisi lokal Sumber Agung.

>*Penulis merupakan Community Organizer (CO) Ulayat Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »