Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
CO Perkumpulan Ulayat Bengkulu saat mendampingi masyarakat Pekon Suka Marga melakukan PRA lanjutan.

REALITAS yang hampir sama harus dan terpaksa dihadapi masyarakat, termasuk di Pekon Suka Marga Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung.

Di Suka Marga, masyarakat masih sangat bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan sebagai sumber penghidupan utama, dan tentunya disertai dengan berbagai permasalahan yang belum menemukan solusi tepat.

Hasil Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dilaksanakan masyarakat Suka Marga, dengan didampingi Perkumpulan Ulayat Bengkulu melahirkan berbagai catatan.

PRA dengan teknik atau analisis mata pencaharian, kalender musim, diagram venn kelembagaan, dan matriks skor tanaman mengungkapkan berbagai persoalan tersebut.

Ketergantungan terhadap sektor yang menjadi sumber keberlanjutan penghidupan, tentunya bukan lagi persoalan klasik yang bisa diabaikan. Karena dapat menjadi jeratan struktural, sehingga membutuhkan terobosan nyata.

  • Monokultur Mata Pencaharian

Berdasarkan analisis mata pencaharian menunjukkan dengan gamblang, jika rumah tangga di Pekon Suka Marga hanya mengandalkan dua sektor utama, yakni pertanian dan perkebunan untuk menopang pendapatan ekonomi.

Dengan hanya mengandalkan dua sektor yang masih berupa produksi hulu, secara langsung menunjukkan betapa rapuhnya struktur ekonomi masyarakat. Sebab, pada saat terjadi gagal panen, pangan dan pendapatan bisa runtuh secara bersamaan.

Jadi sangat jelas terlihat, masyarakat belum memiliki keberanian untuk mendiversifikasi sumber penghidupan yang secara langsung menandakan jika masyarakat masih berkutat pada rutinitas turun-temurun tanpa inovasi berarti.

Seiring dengan fakta ini, tidak bisa terus membiarkan masyarakat khususnya petani, terperangkap dalam pola pikir jika hanya sawah dan kebun sebagai sumber pangan dan pendapatan.

  • Ketidakberdayaan Hadapi Musim

Sementara pada analisis kalender musim, memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan. Di mana aktivitas ekonomi masyarakat dari sektor pertanian dan perkebunan tersebut, sangat ditentukan datangnya musim hujan dan kemarau.

Saat musim hujan tiba, petani mulai menggarap lahan. Ketika musim kemarau datang, mereka terpaksa mencari alternatif lain untuk menopang perekonomian keluarga.

Kondisi ini tentunya bukan sekadar soal cuaca atau musim, tetapi soal ketidakbedayaan dalam membangun sistem pertanian dan perkebunan yang adaptif.

  • Kelembagaan yang Belum Berdaya

Diagram Venn kelembagaan berhasil memetakan berbagai institusi di Pekon Suka Marga. Hanya saja keberadaan lembaga berikut perannya dalam mendukung kegiatan ekonomi dan pengelolaan sumber daya, belum terlalu efektif.

Seperti keberadaan Kelompok Tani (Poktan), Kelompok Tani Hutan (KTH) dan lainnya, belum mampu menjadi kekuatan tawar yang signifikan hingga berdampak positif pada masyarakat.

Sehingga masih perlu dorongan serius untuk menjadikan kelembagaan lokal, tentunya sebagai mesin penggerak ekonomi masyarakat yang sesungguhnya.

  • Matriks Tanaman yang Tidak Direalisasikan

Matriks skor tanaman memberikan gambaran yang sangat jelas. Masyarakat sendiri menilai kopi, kakao, kelapa, karet, pala, dan kemiri sebagai komoditas unggulan berdasarkan nilai ekonomi, kesesuaian lahan, produktivitas dan peluang pasar.

Pertanian sawah tetap bertahan sebagai basis pangan, sementara peternakan ayam kampung, perikanan budidaya seperti Nila dan Lele, bahkan Madu Klanceng dan buruh harian menjadi penyangga ekonomi.

Tetapi berbagai potensi tersebut, masih membutuhkan sentuhan serius dari multipihak. Sehingga benar-benar dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi masyarakat.

 

*Tim Perkumpulan Ulayat Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »