Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Masyarakat Tugu Ratu bersama CO Ulayat Bengkulu saat melanjutkan kegiatan PRA.

SETIDAKNYA terdapat tiga komoditas kunci yang mendominasi sektor perkebunan dan pertanian di Pekon Tugu Ratu Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung, hingga menjadi penopang keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Sementara pada sektor perternakan masih besifat sampingan dan belum teridentifikasi sebagai potensi ekonomi bagi masyarakat Tugu Ratu, yang sebagian wilayah pekonnya masuk kawasan Tanam Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Hutan Lindung (HL) Register 39 Kota Agung Utara.

Ini berdasarkan kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang dilakukan masyarakat dan didampingi Perkumpulan Ulayat Bengkulu melalui teknik mata pencaharian, kalender musim, dan ranking tanaman.

  • Tiga Komoditas Utama

Dalam kegiatan PRA, ketiga komoditas utama yang menopang perekonomian masyarakat Tugu Ratu diantaranya kopi, coklat atau kakao dan padi.

Sementara komoditas pertanian dan perkebunan seperti lada, pisang, kelapa, pala, serai dan lainnya memang menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Hanya saja masih bersifat tambahan.

“Hanya ketiga komoditas itulah yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar dari kami yang berprofesi sebagai petani,” kata Anggota Kelompok Tani (Poktan) Tugu Ratu, Narutomo dalam diskusi saat kegiatan PRA berlangsung.

Meskipun demikian, harus diketahui jika tidak semua masyarakat di Pekon Tugu Ratu ini, memiliki ketiga jenis tanaman tersebut secara bersamaan dalam areal pertanian atau perkebunannya.

“Jadi, tidak semua yang kumpul di sini punya padi dan kopi, enggak semuanya juga punya coklat. Tapi secara garis besar ketiga komoditias itu ada semua di pekon kami ini,” ujar Narutomo.

Dengan kata lain, setiap petani di Pekon Tugu Ratu ini memiliki spesialisasinya masing-masing. Seperti Pak Gibu, dia khusus colkat dan sampai sekarang masih.

“Mas Dwi itu juga coklat, tapi padi dia tidak ada. Kemudian Pak Tono itu kopi. Jadi kalau yang ditanya potensi komoditas, orang yang kumpul dalam kegiatan PRA di sini, sudah beda-beda semua komoditasnya,” jelasnya.

  • Pola Tanam Tumpang Sari

Petani di Pekon Tugu Ratu sejauh ini telah menerapkan sistem tumpang sari, khususnya dalam pengelolaan lahan pertanian atau perkebunan yang mereka miliki.

“Dalam satu areal itu, beberapa diantaranya kami ada yang menanam dua, bahkan ada tiga komoditas dalam satu bidang lahan. Misa tanaman utamanya kopi, di sana juga ada coklat dan lada,” ungkap Narutomo.

Narutomo menambahkan, penerapan sistem tumpang sari ini juga melibatkan tanaman lain seperti serai yang berfungsi menambah penghasilan sampingan bagi petani.

“Biasanya komoditas tambahan yang diusahakan para petani ini, dalam skala terbatas. Dengan begitu petani tetap ada sumber pendapatan perpekannya, sehingga akhirnya kira-kira seperti musiman,” tambahnya.

  • Peternakan Masih Minim

Dalam kegiatan PRA tersebut, juga terungkap jika sektor peternakan belum menjadi fokus utama masyarakat Tugu Ratu. Peternakan yang digeluti masyarakat masih bersifat tradisional, dan hanya untuk konsumsi sendiri.

“Di sini, yang fokus pada pengembangan ternak sebagai sumber pendapatan belum ada. Kalau pun ada, seperti ternak ayam atau bebek. Tapi hanya untuk konsumsi pribadi dan bersifat individual, jadi belum terorganisir,” imbuh Narutomo.

  • Perjelas Pendampingan Ulayat Bengkulu

Dibagian lain, sejumlah masyarakat di Pekon Tugu Ratu meminta Perkumpulan Ulayat Bengkulu, dapat memperjelas pendampingan yang diberikan.

Anggota Poktan Tugu Ratu, Wasidi meminta penjelasan lebih lanjut terkait kegiatan pendampingan, yang bakal diberikan Perkumpulan Ulayat Bengkulu.

“Kami ingin tahu pendampingan seperti apa yang nanti diberikan, fokusnya ke mana dan kegiatannya apa saja. Ini penting bagi kami, karena sebagian besar masyarakat di sini, didominasi petani,” harapnya.

  • Rencana Pendampingan Masyarakat

Community Organizer (CO) Ulayat Bengkulu, Muhammad Hidayatullah menyampaikan, pihaknya memfasilitasi kebutuhan, sesuai dengan apa yang diinginkan masyarakat.

“Kegiatan kami ke depannya itu berangkat dari masyarakat. Kalau diperlukan masyarakat, di situ kami bakal memfasilitasi. Jadi kegiatan ke depannya tergantung dari masyarakatnya, apa yang diperlukan,” ujarnya.

Beberapa rencana kegiatan yang difasilitasi antara lain membuat pondok belajar dan kebun percontohan. “Apapun yang masyarakat mau, kegiatan nanti dipusatkan di situ,” tambah Hidayatullah.

Melalui program pendampingan yang berlangsung, Perkumpulan Ulayat Bengkulu mengharapkan masyarakat dapat mengoptimalkan potensi yang ada, serta mengembangkan sektor-sektor lain yang masih belum tergarap maksimal.

“Sehingga dapat menumbuhkan ekonomi masyarakat, yang diawali dengan PRA,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »