Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Perkebunan kopi petani di Kecamatan Suoh, yang berada di gerbang TNBBS.

Oleh:
Jutian Aprillo

Tanaman kopi dengan daun berwarna hijau pekat, terlihat berjejer di areal perkebunan petani di Kecamatan Suoh, yang berada di gerbang Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Komoditi kopi tersebut memberikan perubahan besar, yang sedang mengalir dalam denyut nadi para petani pekon-pekon di Suoh. Mereka tidak lagi sekadar menanam dan memetik, tapi mulai berbicara tentang kopi sebagai bagian dari ekosistem.

Kondisi ini membuktikan jika petani kopi di Suoh, menyadari jika kebun mereka yang bersebelahan dengan kawasan hutan, telah memberikan kehidupan yang sesungguhnya.

  • Hutan Mengajari Petani Arti Kehidupan

Letak Suoh yang bersinggungan langsung dengan kawasan TNBBS, memberikan pelajaran berharga. Tanpa air bersih, kopi layu. Tanpa mikro iklim yang stabil, bunga kopi rontok sebelum menjadi buah.

Begitu pula, tanpa tanah yang subur, cita rasa khas Suoh hilang ditelan zaman. Sehingga petani mulai mengubah cara pandang. Mereka tidak lagi menganggap hutan sebagai penghalang, melainkan sebagai mitra sejati.

Petani merawat sengkedan di lereng-lereng curam, menanam pohon pelindung di antara barisan kopi. Mereka membangun saluran irigasi sederhana yang menampung air hujan tanpa merusak aliran alami.

Mereka bahkan mulai mengukur keasaman tanah dengan alat sederhana, bukan lagi sekadar menerka-nerka. Setiap tindakan itu mereka lakukan dengan sadar, bahwa produktivitas tinggi tidak pernah abadi jika ekosistem di sekitarnya mati.

  • Bukan Sekadar Biji, Kopi Menyimpan Cerita

Bagi petani Suoh, kopi bukan sekadar komoditas yang dipanen dan diperjual belikan. Kopi memiliki cerita tentang kehidupan yang tumbuh dari tanah subur di kaki Bukit Barisan Selatan.

Mengakar pada tradisi, dan menjadi bagian dari identitas petani yang telah lama menggantungkan hidup pada komoditas ini. Setiap batang kopi yang berdiri tegak, menyimpan jejak tangan para petani yang sabar merawat dari musim ke musim.

Petani kopi di Suoh memahami alam bukan melalui buku, tetapi melalui pengalaman yang diwariskan orang tua dan leluhur. Mereka mengenali datangnya hujan dari arah angin, dan memahami waktu berbunga dari perubahan cuaca.

Tak hanya itu, mereka mengenali waktu memetik buah kopi dari warna merah yang sempurna. Kedekatan mereka dengan alam melahirkan pengetahuan itu, dan mereka membangun hubungan tersebut melalui rasa hormat, kesabaran, serta ketekunan.

  • Merawat Warisan, Songsong Masa Depan

Di tengah perkembangan zaman, petani memahami jika sebuah transformasi bukan berarti melupakan. Mereka justru menjadikan kearifan lokal sebagai filter untuk setiap teknologi baru yang masuk.

Petani membangun kebun kopi yang ramah satwa, menyisakan koridor hijau agar satwa liar tetap memiliki jalur lintasan. Mereka tidak memagari hutan dengan kawat berduri, tetapi dengan kesadaran kolektif.

Pada akhirnya, perjalanan petani kopi di Suoh tetap menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara produktivitas dan konservasi, serta antara kepentingan hari ini dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

*Penulis merupakan Community Organizer (CO) Ulayat Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »