Oleh:
Muhammad Hidayatullah
Bagi masyarakat di Pekon Tugu Ratu, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, sektor pertanian bukan sekedar aktivitas dalam sehari-hari.
Lebih dari itu, pertanian merupakan fondasi kehidupan yang menentukan dan juga merawat keberlangsungan ekonomi, sekaligus masa depan.
Pekon Tugu Ratu yang memiliki penduduk 5.055 jiwa, dan setidaknya 2.407 jiwa atau lebih dari 50 persennya menggantungkan sumber pendapatan dari sektor petanian. Dengan profesi sebagai petani dan buruh tani. (Data Pekon Tahun 2025).
Angka tersebut seharusnya menjadi alasan kuat untuk menempatkan keberlanjutan pertanian, sebagai salah satu prioritas pembangunan Pekon Tugu Ratu.
Ketika pertanian berjalan dengan baik, roda ekonomi masyarakat ikut bergerak. Sebaliknya, ketika cuaca buruk atau hama mengganggu produksi pertanian, petani tidak hanya merasakan dampaknya, tetapi keluarga dan pelaku usaha ekonomi lainnya pun turut merasakannya.
Hanya saja keberlanjutan pertanian di Tugu Ratu bukan tanpa tantangan. Salah satu persoalan mendasar yang hingga kini dihadapi masyarakat yakni ketersediaan irigasi.
Kondisi geografis menjadi salah satu penyebabnya. Sebagian area persawahan menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan sungai besar, yaitu Way Semangka.
Di sisi lain, aliran sungai-sungai kecil yang berasal dari kawasan pegunungan belum mampu menjangkau seluruh areal persawahan.
Persoalan irigasi pada akhirnya bukan hanya persoalan teknis, melainkan persoalan keberlangsungan hidup masyarakat. Sawah yang tidak memperoleh pasokan air secara memadai mengalami penurunan produktivitas.
Sementara petani tetap harus menanggung biaya produksi dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena itu, upaya memperbaiki sistem irigasi perlu dipandang sebagai investasi untuk mempertahankan sumber penghidupan masyarakat.
Pihak terkait pun mencari solusi guna menyelesaikan persoalan teknis tersebut, yakni melalui Program Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) berupa pembangunan saluran irigasi.
Tapi dalam perjalannya, program P3A belum sepenuhnya menjawab persoalan irigasi di Pekon Tugu Ratu. Karena tidak seluruh areal persawahan dapat memperoleh akses dari program tersebut.
Di sini pentingnya melihat pembangunan irigasi bukan sebagai proyek yang berhenti ketika pekerjaan fisik selesai. Tetapi harus dipandang sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan penghidupan masyarakat.
Selama pertanian masih menjadi sumber penghidupan utama ribuan masyarakat, maka harus bisa memastikan sawah mendapatkan air yang cukup dan bukan sekadar pembangunan semata.
*Penulis merupakan Community Organizer (CO) Ulayat Bengkulu

