Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Perkumpulan Ulayat Bengkulu usai sosialisasi mitigasi konflik antara satwa liar dengan masyarakat, bersama Pemerintah Desa dan Kecamatan Suoh

Mengurai konflik antara satwa liar dan masyarakat di Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat, membutuhkan kolaborasi dan sinergitas para pihak.

Kehadiran Perkumpulan Ulayat Bengkulu yang baru saja menggelar sosialisasi program mitigas konflik antara satwa liar dengan masyarakat melalui integrasi mata pencaharian berkelanjutan dan pengelolaan hutan lestari, diharapkan menjadi solusi.

Sosialisasi tersebut tentunya juga diharapkan bukan sekadar forum diskusi biasa saja, tetapi menjadi ruang bagi para pihak untuk duduk bersama dalam mengurai konflik yang dimaksud.

Manager Program Ulayat Bengkulu, Rahmat Hidayat dipenghujung tanggapan terhadap pertanyaan dan saran para undangan menegaskan satu kata, yakni kolaborasi.

“Kehadiran kami di Suoh ini bukan bukan sebagai pahlawan, apalagi menggurui atau bertindak sendiri,” ujarnya.

Terlebih, lanjutnya, sedikit disampaikan bahwasanya sejumlah NGO (Non Goverment Organization) sudah pernah melakukan hal serupa, terutama dalam upaya mengurai konflik antara satwa liar dengan masyarakat.

“Sebelumnya kami sudah koordinasi dengan Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BB-TNBBS). Harapannya bisa berkolaborasi terkait kegiatan mitigasi konflik,” kata Rahmat.

“Kami datang bukan sebagai pahlawan, kerja-kerja seperti ini harusnya kolaborasi,” lanjut Rahmat.

Dalam sosialisasi, Rahmat juga membuka ruang untuk evaluasi program-program sebelumnya. Sepeti penanaman pakan satwa yang dinilai kurang efektif.

“Mengenai menyediakan pakan satwa, mungkin apakah jalurnya kurang tepat, tanamnya bukan di jalurnya. Nanti bisa kita gali, dan nantinya bisa dikolaborasikan,” jelasnya.

Sebelumnya, Firdaus Yusuf, Juru Tulis Pekon Sidorejo mengaku, masyarakatnya setiap hari hidup dalam bayang-bayang konflik dengan satwa liar.

“Saat ini di Sidorejo, satwa Gajah sedang dalam kawasan desa kami, sehingga lagi-lagi konflik-konflik itu pasti ada. Mungkin dengan adanya satgas dan teman-teman yang lain bisa membantu kami untuk menangani konflik itu tadi,” pintanya.

Ia menyampaikan, Gajah-gajah liar kerap merusak tanaman warga hingga habis. “Kami mohon untuk segera ditindaklanjuti. Kami mendukung agar bisa melindungi masyarakat dan satwanya,” imbuhnya.

Rahman, Juru Tulis Pekon Sukamarga memberikan catatan kritis tentang program penanaman makanan gajah yang pernah dilakukan. Menurutnya, program itu tidak berjalan efektif.

“Menambahi sedikit untuk upaya mengurai konflik manusia dan satwa, langkah-langkah membentuk satgas kami rasa merupakan salah satu solusi. Tapi penanaman makanan gajah, dulu pernah dilakukan, tapi tidak efektif,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »