Oleh:
Uswatun Hasanah
Matahari sudah mulai condong ke barat, dan pada Jum’at, 17 Juli 2026 sekira pukul 16.00 WIB itu, kami melihat proses pembangunan bendungan irigasi di Mata Air Sumber Agung.
Kami bergabung dengan perwakilan Gapoktan Sumber Agung, Tono dan Kepala Proyek pembangunan bendungan, Budi. Dalam kesempatan itu, kami berdiskusi terkait kegiatan fisik proyek strategis ini.
Kami memulai kegiatan dengan menyusuri area konstruksi bendungan utama irigasi, yang nantinya sebagai sumber air untuk mengairi areal persawahan milik masyarakat di Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat.
Dalam diskusi, beberapa poin terkait pembangunan irigasi tersebut dibahas. Terutama yang menjadi komponen vital bendungan. Kegiatan pembangunan itu disebut sesuai dengan jadwal rencana kerja yang telah disusun sebelumnya.
Dibagian lain, berbagai aspirasi para petani yang sangat menantikan kehadiran bendungan ini. Selama tiga tahun terakhir, petani mengandalkan pompa air dan sistem tadah hujan yang tidak pernah menjamin ketersediaan air secara stabil.
Keberadaan bendungan irigasi ini mengubah total pola pertanian di Desa Sumber Agung. Petani tidak perlu lagi bergantung pada curah hujan yang tidak menentu. Distribusi air merata ke seluruh blok sawah, bahkan pada puncak kemarau sekalipun.
Keberadaan bendungan irigasi sangat dinantikan para petani, karena selama ini ketersediaan air masih bergantung pada kondisi cuaca dan debit mata air yang tidak selalu stabil.
Dengan adanya bendungan ini, diharapkan distribusi air ke lahan pertanian dapat menjadi lebih merata, terutama pada musim kemarau, sehingga kebutuhan air tanaman tetap dapat terpenuhi.
Melalui kegiatan monitoring ini diharapkan pembangunan bendungan mampu menyediakan pasokan air yang lebih stabil bagi lahan pertanian, meningkatkan produktivitas padi, serta mendukung keberlanjutan sektor pertanian di Desa Sumber Agung.
Pembangunan bendungan juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani melalui hasil panen yang lebih optimal dan mengurangi risiko gagal panen akibat kekurangan air.
Kegiatan monitoring berlangsung dengan lancar, penuh koordinasi, dan menunjukkan komitmen bersama antara pelaksana proyek, kelompok tani, dan seluruh pihak yang terlibat.
Terutama dalam upaya mewujudkan infrastruktur irigasi yang berkualitas, berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
*Penulis merupakan Community Organizer (CO) Perkumpulan Ulayat Bengkulu

