KONFLIK antara manusia dan satwa liar di dan sekitar kawasan hutan seperti di Pekon Sidorejo Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat, merupakan salah satu persoalan pelik yang belum sepenuhnya memiliki solusi.
Di tengah upaya pelestarian alam, masyarakat Pekon Sidorejo yang wilayahnya bersinggungan langsung dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), kerap kali menjadi pihak yang paling terdampak.
Mulai dari kerusakan lahan pertanian dan perkebunan, hingga ancaman keselamatan jiwa yang seakan menjadi derita dan terkadang nyaris tak teredam.
Namun, secercah harapan kini muncul melalui Program Mitigasi Konflik Manusia dan Satwa Liar, yang dibawa Perkumpulan Ulayat Bengkulu.
Program yang mengusung pendekatan pemberdayaan berbasis ekosistem dan masyarakat tersebut, diharapkan dapat menjadi solusi dalam mewujudkan harmoni ruang hidup antara mansyarakat dan satwa liar.
- Mitigasi Konflik & Sustainable Livelihood
Manager Program Ulayat Bengkulu, Rahmat Hidayat menjelaskan, program ini bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan hadir untuk menjawab akar persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat.
“Kami ingin membangun sistem mitigasi konflik antara masyarakat dan satwa liar melalui integrasi Sustainable Livelihood, dan penerapan model pengelolaan hutan lestari berbasis ekosistem dan masyarakat,” ungkapnya.
“Program ini kami laksanakan di tujuh pekon di Kecamatan Suoh, termasuk Pekon Sidorejo yang ditargetkan berlangsung selama empat tahun,” lanjut Rahmat dalam sosialisasi program.
Menurut Rahmat, ada dua poin utama yang menjadi fokus program. Pertama, mitigasi konflik satwa liar. “Dan yang kedua, pemberdayaan ekonomi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan. Garis besarnya dua seperti itu,” tegasnya.
Rahmat memaparkan, yang membedakan pendekatan Ulayat Bengkulu dalam melaksanakan program, adalah komitmen untuk bekerja langsung bersama masyarakat.
“Kami lebih banyak bermain di masyarakat. Jadi kami berharap nantinya masyarakat bisa berkolaborasi, sehingga apa yang kita cita-citakan bersama dapat terwujud,” harapnya.
- Membangun Bisnis Inklusif
Community Organizer (CO) Ulayat Bengkulu, Taufik Adiyanto menambahkan, mitigasi konflik satwa liar harus secara multipihak.
“Ini membutuhkan kerja sama dari pemerintah, Balai Besar (BB) TNBBS Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), dan tentu saja masyarakat, serta berbagai pihak lainnya,” tambah Taufik.
Tujuan akhir program ini adalah terciptanya tiga pilar keberlanjutan, yang tentunya sebagaimana cara Ulayat Bengkulu memandang lestari secara utuh.
“Ketika lestari secara sosial, lestari secara ekonomi, dan lestari secara ekologi terwujud, maka itulah lestari yang utuh. Maka harapan kami, program ini bisa membangun keharmonian antara manusia dan satwa liar,” imbuh Taufik.
Program Ulayat Bengkulu tak hanya fokus pada mitigasi, tetapi juga terbangunnya bisnis inklusif yang melibatkan masyarakat sekitar hutan, meningkatnya kualitas kawasan hutan, serta terwujudnya tatanan harmonis antara manusia dan satwa liar.
- Masyarakat Menghadapi Persoalan Aktual
Peratin Sidorejo, Hadi Susanto menyuarakan persoalan aktual yang merisaukan masyarakat, apalagi di tengah-tengah ekspektasi tinggi terhadap Perkumpulan Ulayat Bengkulu, yang diyakini mampu membawa solusi nyata.
“Masyarakat itu bertanya, tim apa ya yang menerbangkan drone? Ini gajah sudah masuk, selalu pemikiran masyarakat, belain gajahnya saja kurang lebih,” tuturnya.
Hadi mengungkapkan, konflik dengan gajah liar telah memasuki fase kritis. “Di forum ini, kebetulan gajah itu masuk ke desa kita mulai bulan ini,” imbuhnya.
Meski demikian, Hadi menyampaikan dukungan penuh masyarakat. Pihaknya siap membantu dan memberikan support, baik data, kesiapan partisipasi, maupun responsivitas masyarakat.
“Insyaallah kami lakukan. Dan poinnya, apa pun kegiatan Perkumpulan Ulayat, kami sepenuhnya menerima. Mari kita bersama-sama,” tutupnya.

