DALAM ekosistem di Pulau Sumatra, spesies puncak seperti gajah, harimau dan beruang madu harus bertahan hidup di tengah ancaman kehilangan habitat.
Sebagai satwa yang dilindungi, kelangsungan hidup mereka bergantung pada wilayah hutan yang luas dan tak terputus, namun kian menyusut seiring aktivitas manusia merambah jauh ke dalam kawasan hutan.
Tepat di tepian batas hutan lebat tersebut, masyarakat setempat juga menghadapi tekanan demi kelangsungan hidup mereka sendiri.
Bagi masyarakat seperti di Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barang, yang bersinggungan langsung dengan kawasan hutan yakni Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), stabilitas ekonomi sangat bergantung pada lahan.
Tanpa perluasan lahan untuk pertanian dan pemukiman baru, keluarga-keluarga ini kehilangan sumber penghidupan utama mereka. Kontras visual ini menggambarkan kenyataan di balik alih fungsi hutan.
Saat masyarakat menebang pohon asli untuk membuat terasering pertanian di lereng bukit, mereka memecah kesatuan bentang alam.
Proses ini membagi hutan menjadi petak-petak terisolasi, sehingga memutus jalur migrasi alami yang menjadi tumpuan hidup satwa liar. Situasi ini menciptakan keuntungan satu pihak, yang berarti kerugian bagi pihak lain (zero sum game).
Kebutuhan ruang untuk pertumbuhan ekonomi manusia beririsan langsung dengan koridor yang dibutuhkan satwa untuk berburu, mencari makan, dan berkembang biak.
Ketika kebutuhan ruang ini saling berbenturan, dampaknya terjadi seketika. Gajah dapat menghancurkan hasil panen penting yang merupakan kerja keras setahun penuh hanya dalam satu malam.
Harimau yang mencari mangsa, akibat hilangnya habitat mangsa alami mereka, kerap menjumpai batas permukiman warga hingga pertemuan ini memicu konflik akut dan mematikan.
Akhirnya mengancam keselamatan manusia sekaligus kelangsungan hidup satwa liar. Ancaman yang terus-menerus ini memicu kebencian mendalam di kalangan warga setempat.
Satwa-satwa terancam punah ini merupakan ancaman nyata bagi masyarakat, dan mata pencaharian masyarakat yang bersinggungan langsung dengan kawasan hutan tersebut.
Ketakutan tersebut berujung pada tindakan membunuh satwa sebagai bentuk pertahanan diri atau pembalasan, yang pada akhirnya menghambat upaya konservasi yang lebih luas.
Metode konservasi konvensional, seperti pemasangan pagar fisik atau penggusuran terhadap masyarakat, sering kali gagal karena memperlakukan masalah sosial-ekonomi seolah-olah hanya masalah geografis semata.
Mengabaikan kelangsungan hidup ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan membuat pelanggaran batas hutan, menjadi hal yang hampir tak terelakkan.
Kerangka kerja Perkumpulan Ulayat Bengkulu menyediakan sistem mitigasi sosial-ekonomi yang terstruktur. Rencana kelembagaan ini dirancang untuk melampaui sekadar advokasi sederhana, dengan berfokus pada intervensi terorganisir untuk mengelola konflik yang sedang berlangsung.
Perubahan jangka panjang yang efektif bermula dari upaya segera untuk meredakan krisis ini. Menangani pertemuan langsung antara manusia dan satwa di lapangan merupakan prasyarat bagi perubahan sosial-ekonomi yang berkelanjutan.
Sistem ini mengandalkan unit respons cepat berbasis masyarakat. Ketika satwa memasuki wilayah manusia, sistem peringatan dini memberi tahu pusat komunikasi, sehingga tim terlatih dapat mengarahkan satwa liar kembali ke habitatnya.
Unit-unit ini memanfaatkan data bentang alam untuk memantau pola pergerakan spasial, serta mengamankan batas wilayah sebelum satwa masuk ke area permukiman manusia.
Meskipun sistem peringatan ini mampu menangani gejala konflik yang mendesak, solusi jangka panjang tetap menuntut perubahan pada fondasi ekonomi wilayah perbatasan tersebut.
Tahap kedua dari cetak biru ini berfokus pada intervensi ekonomi, yang menjadikan hutan yang tetap berdiri memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan lahan yang telah dibuka.
Transisi ini melibatkan praktik agroforestri organik. Alih-alih membuka lahan, penduduk desa membudidayakan tanaman yang tumbuh di bawah naungan, seperti kopi yang membutuhkan kanopi alami agar dapat tumbuh subur.
Untuk mendukung ekonomi baru ini, masyarakat mendirikan tempat pembibitan tanaman lokal guna menghasilkan spesies endemik bernilai tinggi.
Tempat pembibitan ini memiliki dua peran penting: menyediakan pendapatan yang berkelanjutan dan langsung bagi pengelola desa, serta memasok materi hayati yang diperlukan untuk memulihkan koridor satwa liar yang telah rusak.
Untuk mengelola hasil hutan baru ini, penduduk desa membentuk koperasi formal. Struktur ini memastikan bahwa manfaat ekonomi tetap berada di tingkat lokal, adil, dan inklusif bagi seluruh masyarakat.
Dengan menempatkan penduduk desa sebagai pemangku kepentingan langsung atas hasil hutan, program ini menyelaraskan kesejahteraan masyarakat dengan kesehatan ekosistem.
Masyarakat menjadi kekuatan utama dalam melindungi habitat satwa liar yang sebelumnya mereka andalkan melalui pembukaan lahan. Visualisasi ini memperlihatkan keseimbangan tersebut.
Batas-batas spasial ditetapkan secara jelas: pusat desa, zona penyangga agroforestri, dan koridor satwa liar yang dilindungi secara ketat.
Hal ini diukur melalui tiga indikator Masatat Sescara (masyarakat sejahtera), Hutan Lestari (berkelanjutan), dan Satwa Liar Terlindungi.
Lanskap lokal ini berkontribusi pada tingkat makro inisiatif FOLU Net Sync 2030 Indonesia. Tujuan iklim nasional ini menargetkan agar sektor kehutanan, mampu menyerap lebih banyak karbon daripada yang dilepaskannya pada akhir dekade ini.
Pengelolaan hutan yang dipimpin masyarakat secara alami menurunkan tingkat deforestasi dan meningkatkan upaya pemulihan.
Ini menjadikan masyarakat lokal sebagai penggerak penting dalam mencapai target nasional pengurangan emisi karbon. Model Ulayat menyediakan cetak biru yang dapat diterapkan dalam skala lebih luas.
Mekanisme yang mengaitkan kesejahteraan lokal dengan kesehatan ekosistem dapat diterapkan untuk mengatasi krisis keanekaragaman hayati dan iklim di seluruh dunia.
Konservasi berkelanjutan bergantung pada perancangan sistem ekonomi di mana kesejahteraan manusia dan pelestarian alam berjalan beriringan.
Dengan menjadikan hutan sebagai aset bagi mereka yang tinggal di sekitarnya, kita menciptakan jalan bagi manusia dan satwa liar untuk sama-sama berkembang dan sejahtera.
*Tim Perkumpulan Ulayat Bengkulu

