Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Kondisi Danau Lebar Suoh yang rentan terbakar saat memasuki musim kemarau.

Oleh:
Randa Firdiansyah

Asap tebal kembali mengepul dari balik bukit. Warga Pekon Ringin Sari dan Sukamarga hanya bisa menghela napas panjang saat lidah api menjalar membakar hamparan rerumputan di kawasan Danau Lebar, Kecamatan Suoh.

Pemandangan ini bukan barang baru. Setiap musim kemarau tiba, api datang bergulir, melahap habis rumput-rumput kering, meninggalkan tanah gersang dan pemandangan suram yang menodai keindahan danau.

Pak Murni mengakui keprihatinan ini telah menghantui mereka bertahun-tahun. “Kami melihat sendiri bagaimana bukit-bukit itu terbakar hampir setiap tahun. Keindahan Danau Lebar perlahan tercoreng,” tuturnya.

Namun, dari kepedihan itu, muncul secercah harapan yang justru lebih terang dari bara api. Masyarakat tidak lagi mau terpuruk dalam siklus kebakaran yang berulang.

Mereka mengangkat gagasan berani, agar kawasan bukit yang rawan terbakar menjadi laboratorium hidup berbasis konservasi. Sebuah agro-eduwisata yang menyatukan pelestarian alam dengan pemberdayaan ekonomi.

Bayangkan, bukit-bukit yang menghitam karena hangus terbakar, diharapkan secara perlahan ke depannya dapat berubah warna menjadi hijau segar.

“Kami tidak ingin terus menerus berhadapan dengan api. Kami ingin menghijaukan kembali bukit-bukit ini dan mengambil manfaat darinya,” ujar Pak Murni dengan semangat membara.

Langkah ini membawa harapan ganda. Di satu sisi, penanaman pohon buah akan mengembalikan keasrian Danau Lebar yang selama ini menjadi kebanggaan warga Suoh.

Di sisi lain, masyarakat dapat menuai hasil ekonomi dari panen buah-buahan. Mereka tidak hanya menjadi penjaga hutan, tetapi juga pengelola destinasi wisata yang menarik.

Kawasan ini memang berada di zona pemanfaatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Keberadaan status konservasi justru menjadi kekuatan jika dikelola dengan bijak. Karena itu, seluruh pihak bersama-sama merancang langkah strategis.

TNBBS membawa kewenangan dan aturan, Pemerintah Pekon membawa semangat lokal, Pemerintah Daerah menyediakan dukungan kebijakan, dan masyarakat menghadirkan tenaga serta kearifan.

Sinergi ini menjadi kunci utama. Tanpa kerja sama yang erat, gagasan agung hanya tinggal impian. Namun, dengan gotong royong, bukit gundul itu bisa berdenyut kembali dengan kehidupan.

Mari kita tengok beberapa tahun ke depan. Bayangkan Anda berdiri di puncak bukit yang dulu gersang. Kini, di hadapan Anda terbentang hamparan pepohonan buah yang rindang.

Dedaunan bergoyang tertiup angin danau. Di bawah, air Danau Lebar membiru menenangkan. Anda melangkah menyusuri jalur trekking yang tertata rapi.

Dari titik pandang, Anda menyaksikan keindahan danau dari ketinggian. Tak jauh dari situ, ruang edukasi konservasi terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar tentang bagaimana hutan dan manusia bisa hidup berdampingan.

Itulah mimpi yang sedang dibangun. Bukan sekadar tempat wisata biasa. Danau Lebar ingin menjadi contoh nyata pelestarian alam tidak harus mengorbankan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, justru keduanya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan.

*Penulis merupakan Community Organizer (CO) Perkumpulan Ulayat Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »