Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Proses pembuatan pupuk organik cair yang dilakoni Ketua Gapoktan Pekon Roworejo

Oleh:
Taufik Adiyanto

Dengan menggunakan peralatan sederhana, Ketua Gabungan Kelompok Tani Pekon Roworejo Kecamatan Suoh Kabupaten Lampung Barat, Iwan mampu membuktikan jika teknologi pertanian tidak selalu harus mahal.

Berangkat dari pengalaman bertani dan tingginya kebutuhan pupuk di lahan pertanian yang disertai pendampingan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung, Pak Iwan mulai mampu memproduksi dan mengembangkan Pupuk Organik Cair (POC).

Pupuk organik ini yang sejak diproduksi, hingga kelak menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.

Dalam proses produksi pupuk organik cair, Pak Iwan melakukannya secara sederhana dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungannya, dan menggunakan drum plastik bantuan dari Pemprov Lampung berkapasitas besar yang berfungsi sebagai wadah fermentasi.

Meskipun peralatan yang digunakan tergolong sederhana, proses pembuatannya tetap memerhatikan tahapan fermentasi. Sehingga menghasilkan pupuk yang berkualitas dan kaya unsur hara.

Inovasi inilah yang menunjukkan sekaligus membuktikan teknologi pertanian tidak selalu harus mahal. Bahkan inovasi ini dapat terus dikembangkan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh.

Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair terdiri dari kotoran sapi, urine sapi, air bersih, air kelapa, air kedelai, molase atau gula merah sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme, serta EM4 (Effective Microorganisms-4) sebagai aktivator fermentasi.

Pak Iwan juga memanfaatkan limbah hijauan, seperti daun-daunan dan rumput yang dicacah, untuk memperkaya kandungan unsur hara dalam pupuk.

Seluruh bahan tersebut dicampurkan ke dalam drum, kemudian difermentasi dalam kondisi tertutup selama beberapa minggu hingga menghasilkan pupuk organik cair yang siap diaplikasikan pada tanaman.

Menurut Pak Iwan, penggunaan pupuk organik cair memberikan berbagai manfaat bagi lahan pertaniannya. Selain membantu meningkatkan kesuburan tanah, juga mampu memperbaiki aktivitas mikroorganisme di dalam tanah.

Kemdian meningkatkan pertumbuhan tanaman, serta menjaga kelembapan dan struktur tanah agar tetap baik ketika melakukan berbagai budidaya tanaman.

Penggunaan pupuk organik secara rutin juga dinilai dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia, sehingga biaya produksi pertanian menjadi lebih efisien.

Pemanfaatan bahan-bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah menjadi pupuk bernilai guna juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan.

Kotoran ternak, urine sapi, dan sisa-sisa hijauan yang berpotensi mencemari lingkungan dapat diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat bagi pertanian.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan yang mengedepankan efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, dan peningkatan kesehatan ekosistem pertanian.

Praktik yang dilakukan Pak Iwan, tentunya menjadi contoh jika inovasi dapat tumbuh dari pengalaman petani sendiri. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar, Pak Iwan berhasil menghasilkan pupuk organik.

Pupuk organik ini mendukung produktivitas lahannya, sekaligus menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mulai mengembangkan teknologi sederhana yang ramah lingkungan.

Upaya seperti ini menunjukkan kemandirian petani dalam mengelola sumber daya lokal, merupakan langkah penting menuju sistem pertanian yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

*Penulis merupakan Community Organizer (CO) Perkumpulan Ulayat Bengkulu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »