Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu

INFORMASI SINGKAT ULAYAT

Nama Organisasi

:

ULAYAT BENGKULU INDONESIA

Alamat Lengkap

:

Jl. Pangeran Natadirdja km. 7,5, PERUM Gedang Permai Blok A No. 02 Rt. 22 Rw.04 Kel. Gading Cempaka Kota Bengkulu 38225  Telp. 0812-7100-7045, Email: ulayat@ulayat.org / ulayat@gmail.com

Status Organisasi

:

PERKUMPULAN

Akte Notaris

:

Akte pendirian: Notaris Endang Susi Patro, SH, M.Kn No. 02 tahun 2025, Akte perubahan terakhir: Notaris Meilani Liman SH tahun 2008

AHU

:

NOMOR AHU-0007562.AH.01.07.TAHUN 2025

NPWP

:

1000 0000 0663 5465

NIB

:

2511250081871

Tanggal Berdiri

:

04 September 2025

Dewan Pengawas

:

–  Dickson Aritonang/Ketua

–  Drs. Heri Suprianto/Anggota

–  Martian SugiartoAnggota

Dewan Pengurus (eksekutif)

:

–    Bowo Tamtulistio/DIrektur

–    Rahmat Hidayat/Sekretaris

–    Iis Susanti/Bendahara

Tujuan Organisasi

:

Terciptanya komunitas di dan sekitar kawasan hutan yang kuat dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan

Susunan Pengurus Organisasi

:

Rahmat Hidayat

Beni Ardiansyah

Ujang Aprianto

Iksan Hariansyah

Novi Suhendro

Andi Kurnia Agung

Andy Afriza

Hendry Mubyakto

Kepala Kantor/Adm

Manager Program

Bidang GIS

Kajian PSDA

Bidang Pengembangan Usaha

Pemberdayaan Masyarakat

Senior Fasilitator

Fasilitator

ULAYAT didirikan pada 26 Januari 2000 di Bengkulu. Visi kami adalah terciptanya masyarakat yang di sekitar hutan yang kuat dalam hal sumber daya alam yang berkelanjutan dan pengelolaan yang demokratis. Misi kami mendorong kebijakan

sumberdaya alam berkelanjutan; penguatan masyarakat lokal dalam memungkinkan mereka untuk mengontrol kebijakan pengelolaan sumber daya alam; membangun aliansi antara kelompok-kelompok masyarakat dalam konservasi dan mendorong kearifan lokal berbasis pengelolaan sumberdaya alam.

ULAYAT adalah NGO lokal di Propinsi Bengkulu yang memiliki catatan panjang dalam kampanye anti pengrusakan hutan dan promosi model-model pengelolaan SDA berbasis masyarakat. Salah satu terobosan adalah pengembangan media kampanye lingkungan dengan mendirikan stasiun televisi lokal yaitu Bengkulu TV.

ULAYAT membangun inisiatif kebijakan untuk mengembangkan pengelolaan kawasan penyangga taman nasional secara kolaboratif dalam manajemen terpadu Lansekap Bukit Barisan Selatan di Kabupaten Kaur.

Beberapa aktivitas terakhir diantaranya pendampingan pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam berkelanjutan dan pemanfaatan energi terbarukan melalui program Green PNPM di 4 kabupaten di Bengkulu, serta kajian potensi pemulihan ekosistem di kawasan bekas HPH di Lansekap Kerinci Seblat.

Sejarah organisasi ini dimulai pada bulan Juli 1997, diinisiasi oleh beberapa orang aktivis lingkungan di Bengkulu untuk membangun simpul gerakan organisasi konservasi lingkungan dan Kelompok Pencinta Alam di Propinsi Bengkulu.

Pada saat itu berdiri sebuah organisasi forum yang diberi nama Wadah Organisasi Konservasi atau disingkat WORKER.

Pada Tahun 1998, nama WORKER kemudian diubah menjadi ULAYAT . Perubahan nama ini berkaitan dengan besarnya kendala yang dihadapi dalam mewujudkan simpul gerakan berbagai organisasi lingkungan yang ada di Bengkulu.

Selain itu, perubahan nama menjadi Ulayat tersebut juga didasari oleh terjadinya perubahan cara berpikir yang mendasar pada para pendiri dalam memandang persoalan lingkungan, baik yang terjadi secara umum di Indonesia maupun secara khusus yang terjadi di Propinsi Bengkulu.

 

Visi:

Terciptanya komunitas di dan sekitar kawasan hutan yang kuat dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Dalam upaya visi diatas Ulayat Bengkulu mengembangkan misi :

a. Melakukan Penguatan Kapasitas Ulayat

Sebagai organisasi advokasi lingkungan yang belum lama didirikan, Ulayat merasakan masih belum banyak melakukan perubahan yang signifikan bagi kepentingan masyarakat dan sumber daya alam, lokal maupun nasional.

Kendala yang paling sering muncul adalah keterbatasan sumber daya manusia dan kemampuan personal ulayat dalam bidang pekerjaannya masing-masing.

Sehingga Ulayat, baik secara kelembagaan maupun personalnya, perlu meningkatkan kemampuannya, untuk dapat menghadapi semua tantangan yang mengancam sumber daya alam dan masyarakat lokal.

b. Mendorong Lahirnya Kebijakan-kebijakan PSDA yang Berpihak pada Masyarakat dan Lingkungan

Dalam misi ini, Ulayat melakukan lobby-lobby dengan pendekatan taktis dan strategis kepada pihak-pihak yang berwenang, termasuk melakukan aktivitas kampanye untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan yang dilakukan mulai dari tingkat lokal, regional sumatera sampai tingkat nasional.

c. Memperkuat Kelembagaan Masyarakat Dampingan agar memiliki Posisi Tawar dan Melakukan Kontrol atas Kebijakan PSDA dan Keaneka Ragaman Hayati

Dalam mencapai misi ini, Ulayat melakukan kegiatan-kegiatan pengorganisasian bagi masyarakat di dalam dan di sekitar hutan yang kondisinya kritis dan penuh dengan konflik. Pendampingan ini dilakukan secara live-in dan berkesinambungan.

Dalam dua tahun terakhir ini ulayat juga melakukan upaya pengorganisasian dan perencanaan pembangunan tataruang desa secara partisipatif, yang dilakukan untuk memperkuat posisi masyarakat dalam PSDA yang dilakukan di beberapa tempat (kabupaten) di propinsi Bengkulu.

d. Membangun Aliansi Strategis untuk Mendukung Masyarakat Dampingan

Upaya memperkuat masyarakat dampingan dan gerakan yang dibangun, untuk tercapainya pengelolaan sumberdaya alam dan hutan yang lestari, berkelanjutan dan berpihak pada masyarakat, Ulayat membangun aliansi strategis dengan beberapa lembaga ditingkat lokal, regional, nasional dan internasional.

Hal ini menjadi penting karena menyangkut dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang cenderung hanya berpihak pada kepentingan investasi.

e. Menumbuhkembangkan Model-model Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berbasis pada Kearifan Lokal

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat dampingannya, Ulayat mencoba membangun beberapa model PSDA yang berkelanjutan dan berbasis pada kearifan-kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat (pranata dan adat) yang secara turun temurun sudah ada.

Hal ini dinilai sangat penting dilakukan sebagai pembanding bagi pihak lain, terutama bagi pemegang dan penentu kebijakan/kekuasaan untuk melihat dan menilai kembali kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan dengan model pembangunan SDA (hutan) yang lebih menjamin fungsi serta keberlanjutannya yang dapat serta telah dilakukan oleh masyarakat.

 

PENGALAMAN PENGELOLAAN PROJECT

Kegiatan Ulayat Dengan Dukungan Donor / Lembaga Lain:

 

Tahun

Sumber Dukungan /

Donor

Judul / Penjelasan singkat Kegiatan

Jumlah dana (Rp)

2024

WGM KKI

Warsi

Membangun Ekonomi masyarakat berbasis Potensi Hutan Desa “Bukit

Beso” melalui Sistem Agroforestry.

250.000.000,

2023

Swadaya

Pendirian Kebun Kopi di Buffer HL. Bukit Daun Reg. 05 Bengkulu

250.000.000,-

2022

Y. Gambut Riau-

Benihbaik.com

Penghijauan Hutan Pantai dan TWA Pantai Panjang Pulau Baai

125.000.000,-


 

-IDX Bengkulu

 

 

2021

SAWIT WATCH

Identifikasi Permasalahan dan Ancaman Perkebunan Besar Sawit di Kabupaten Kaur

30.000.000,-

2013-2016

TFCA-SUMATERA

Pengembangan Koridor TNKS-TNBBS

Melalui Skema Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

4.812.715.200,-

2011-2012

KEHATI

Kajian Restorasi Ekosistem di Kawasan Bekas HPH Dengan Pendekatan

Berbasis Masyarakat di Lansekap TNKS Propinsi Bengkulu

70.575.000,-

2012

Kementerian Kesehatan RI

Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Penyehatan Lingkungan di Lokasi

Demplot Pengelolaan SDA di Desa Pal Tigapuluh Kabupaten Bengkulu Utara

15.000.000

2011

PSF World Bank – WCS-IP

Demplot Pengelolaan SDA dan Energi Terbarukan di Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara dan Lebong

105.000.000,-

2010-2012

PSF World Bank – WCS-IP

Dukungan Teknis: Peningkatan

kesadaranlingkungan stakeholders PNPM-LMP Propinsi Bengkulu

2.057.035.000,-

2010

Sawith Watch

Kampanye Penyadartahuan Masyarakat Atas Dampak Perluasan Perkebunan

Sawit di Kabupaten Kaur dan Bengkulu Utara

19.655.000.-

2010

Telapak

Penguatan Kapasitas Stakeholder

dalam Pengelolaan Sumberdaya Air Terpadu (IWRM) di DAS Air Bengkulu

145..240.000,-

2009

WCS-IP

Inisiasi program REED di kabupaten Kaur

11.400.000,-

2008 –

2009

WASAP World

Bank- LP3ES

Penguatan kapasitas CSO dan Pemakai

Air dalam Pengelolaan Sungai

157.000.000,-

2008

Telapak

Riset monitoring Kualitas Air DAS Air Bengkulu

27.210.000,-

2008

Sawit Watch

Investigasi Perkebunan Besar Sawit PT ALNO di Kabupaten Bengkulu Utara

19.780.00,-

2008

Samdhana Institue

Koordinasi dan Workshop Belajar Bersama bagi Masyarakat di 14 Desa Dampingan Ulayat di Kabupaten kaur

44.549.000,-

2008

Sumatera Sustainable Support

Studi Pengelolaan Hutan Bukit Kayangan Kabupaten Kaur sebagai pengembagan Model Hutan Desa

43.500.000,-

2007 –

2008

WCS-IP

Inisiasi Kelompok Pengamanan Hutan di Dusun Air Kemang Desa Ulak Bandung Kecamatan Muara Sahung

19.000.000,-

2006 –

2007

WCS-IP

Inisiatif Pengelolaan Kawasan

Penyangga TNBBS Kaur secara Terpadu dan Berkelanjutan: Inisiasi, sosialisasi

38.000.000,-


 

 

dan Launching Forum Pembangunan Berkelanjutan di Lansekap BBS Kaur.

 

2006 –

2007

GEF-SGP

Inisiatif Pengelolaan Kawasan Penyangga TNBBS dengan pengelolalaan terpadu dan berkelanjutan

798.813.000,-

September 2005

WCS-IP

Pelatihan Penyusunan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Kabupaten (IBSAP Kabupaten)

119.140.000,-

September-November 05

ILRC

Monitoring Illegal Logging di Kawasan TNBBS di Kabupaten Kaur Pasca Pilkada Juni 2005

48.144.000,-

Mei-Januari 2005

WCS-IP

Perencanaan dan Pembangunan Tata Ruang Kabupaten Kaur secara Partisipatif dan berbasis Konservasi

252.000.000,-

Juni 04–

Januari 05

EU-ILRC

Inisistaif Awal membangun keterpaduan penanganan illegal logging di TNBBS

160.000.000,-

Februari – Juni 2004

GreenCom-Usaid

Membangun Gerakan Masyarakat untuk Memerangi Pengruskan Hutan

206.000.000,-

Januari 05-

KpSHK-DFID

Membantu masyarakat untuk mengelola hasil hutan non kayu dengan membuka akses pasar dan manajemen organisasi kelompok

45.000.000,-

November 2003 –

Januari 2004

EU-ILRC

Inisistaif Awal membangun keterpaduan penanganan illegal logging di TNBBS

49.135.000,-

Oktober 2003 –

Maret 2004

Yayasan Kemala

Membangun Gerakan Masyarakat untuk Memerangi Pengrusakan Hutan

121.715.000,-

2002-2004

Telapak Indonesia-DFID MFP

Investigasi Illegal Logging di TNBBS dan TNKS

650.000.000,-


2003-2004

Telapak Indonesia

Inisiasi awal penanganan DAS Multipihak di Kabupaten Kepahiang dan RL

70.000.000,-

Sept’ 2002

– Juni 2003

DFID-MFP

Membangun Model Pengelolaan SDA Pulau Enggano Secara Partisipatif Sebagai Alat Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat

457.922.500,-

Sept’02-Agt‘03

Usaid-Kehati

Pendidikan Lingkungan Hidup

124.500.000,-

Februari ’03-

Juli ‘03

CRP

Pemberdayaan Masyarakat di sekitar Taman Hutan Raya Bengkulu

149.500.000,-

 

Translate »