Padukan Pengetahuan Lokal dengan Presisi Digital
DALAM memetakan wilayah atau sebuah kawasan, tidak bisa lagi hanya mengandalkan ingatan atau catatan kasar. Sehingga dibutuhkan sebuah standar baru, yang menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi presisi.
Inilah yang menjadi fokus dalam pelatihan “Pemetaan Partisipatif & Groundcheck” yang digelar di Perkumpulan Ulayat Bengkulu di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.
Pelatihan ini menekankan jika data lapangan yang baik bukan sekadar titik di atas peta, melainkan sebuah narasi yang terverifikasi. Tujuannya agar masyarakat mengetahui wilayahnya.
“Meskipun demikian alat bantu diperlukan untuk merekamnya secara akurat. Peta bukan sekadar gambar, melainkan dasar pengambilan keputusan,” ujar Bidang GIS Perkumpulan Ulayat Bengkulu, Ujang Aprianto.
Menurutnya, dalam sesi pelatihan yang dilakukan, masyarakat yang menjadi peserta diajak untuk memahami data yang berdaulat dan akurat tersebut, lahir dari perpaduan antara pengetahuan lokal dan teknologi spasial.
“Data yang baik itu harus memenuhi empat dimensi yakni lokasi yang tepat, informasi yang lengkap, foto pendukung, dan waktu pencatatan yang jelas,” tambah Ujang.
Membedah Ruang Jadi Geometri Digital
Salah satu materi kunci dalam pelatihan ini adalah bagaimana menerjemahkan objek nyata di lapangan menjadi data digital. Peserta dilatih untuk membedakan antara waypoint (titik), track (jalur) dan polygon (area).
Sebuah titik digunakan untuk menandai lokasi spesifik seperti mata air atau pos, sedangkan jalur merekam pergerakan tim, dan poligon menggambarkan area seperti kebun atau permukiman.
“Setiap objek harus memiliki atribut. Ini adalah cerita di balik lokasi tersebut. Tanpa atribut, data hanya akan menjadi titik yang kehilangan konteks,” jelas Ujang.
Tiga Pilar Validitas Data
Untuk memastikan data dapat dipertanggungjawabkan, selama pelatihan para peserta juga diperkenalka dengan konsep Data Valid yang ditopang tiga pilar utama.
Pertama Tepat Lokasi, mengharuskan penggunaan sistem koordinat yang benar, seperti Datum WGS 84. Kesalahan datum dapat menyebabkan titik terlempar jauh ke lokasi yang salah.
Kedua Tepat Waktu, di mana setiap kejadian harus tercatat dengan timestamp yang akurat. Ketiga Tepat Dokumentasi, yang mewajibkan pengambilan foto autentik yang mendukung informasi.
“Jangan tinggalkan lokasi sebelum memastikan enam elemen mutlak mulai dari cek lokasi, atribut, foto, waktu, ID unik, dan ketersediaan file,” tegas Ujang.
Membagi Zona & Aturan Kunci
Pelatihan ini juga menyoroti berbagai kesalahan fatal yang sering terjadi di lapangan, seperti mengambil titik terlalu cepat sebelum sinyal GPS stabil, atau menghapus data asli sebelum diverifikasi.
“Mengandalkan ingatan saat kembali ke basecamp adalah kesalahan besar. Atribut dan kondisi harus dicatat langsung detik itu di lokasi,” peringat Ujang.
Untuk menghasilkan cerita lapangan yang utuh, peserta dibekali dengan aturan kunci yang mencakup lima pertanyaan dasar. Diantaranya apa objeknya? Di mana lokasinya? Apa buktinya? Bagaimana kondisinya? Dan kapan kejadiannya?
“Dengan menjawab kelima pertanyaan ini, data yang dihasilkan tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga kaya informasi,” imbuhnya.
Titik Koordinat Menuju Tata Ruang
Pada akhirnya, seluruh data yang dikumpulkan melalui metode ini bertujuan untuk sesuatu yang lebih besar, yakni kebijakan tata ruang yang adil dan berkelanjutan.
“Data lapangan yang baik adalah fondasi pengelolaan lingkungan yang lebih adil. Ini bukan sekadar tentang menandai titik, tetapi tentang bagaimana kita membangun argumen yang tak terbantahkan untuk masa depan wilayah kita,” tambah Ujang.
Dengan mengintegrasikan GPS/GNSS, Avenza Maps dan Timestamp Camera, Perkumpulan Ulayat Bengkulu menargetkan dapat memiliki alat untuk tidak hanya merekam, tetapi juga memvalidasi keberadaan sebuah wilayah.
“Tentu berikut dengan potensi, dan langkah apa yang diambil dalam pelaksanaan program membangun sistem mitigasi konflik manusia dan satwa liar,” tutupnya.

