KONFLIK antara manusia dan satwa liar di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung sudah menjadi sebuah persoalan bagi ruang kehidupan.
Bahkan secara ekologis, Suoh yang bersinggungan langsng dengn Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), seringkali menjadi medan pertempuran antara kepentingan konservasi dan kebutuhan hidup masyarakat.
Selama bertahun-tahun, pendekatan represif dan pencegahan konvensional seringkali hanya menjadi solusi yang terkesan hanya tambal sulam.
Masyarakat di tujuh pekon di Kecamatan Suoh, mulai dari Banding Agung, Ringin Sari, Roworejo, Sidorejo, Sukamarga, Sumber Agung, dan Tugu Ratu selalu hidup dalam kekhawatiran di tengah himpitan ekonomi.
Sehingga langkah Perkumpulan Ulayat Bengkulu yang melaksanakan program mitigasi konflik berbasis sustainable livelihood, diharapkan menjadi sebuah terobosan yang berorientasi pada solusi.
Persoalan utama di Suoh sebenarnya bukan sekadar bagaimana mengusir satwa, melainkan bagaimana manusia bisa hidup berdampingan secara aman tanpa harus mengorbankan kesejahteraan.
Selama ini, banyak program konservasi yang hanya terkesan meminggirkan masyarakat lokal. Bahkan, masyarakat dipandang sebagai ancaman, bukan sebagai mitra.
Sehingga akhirnya memicu resistensi dan praktik-praktik ilegal seperti perambahan hutan, yang justru memperparah kerusakan ekosistem dan memicu konflik susulan.
Pendekatan yang ditawarkan Perkumpulan Ulayat Bengkulu melalui integrasi sustainable livelihood dan model pengelolaan hutan lestari berbasis ekonomi masyarakat, menawarkan upaya untuk menjawab akar permasalah.
Ketika masyarakat memiliki sumber penghidupan yang stabil dan menguntungkan di luar kegiatan yang merusak hutan, maka tekanan terhadap kawasan konservasi berkurang.
Mereka tidak lagi perlu masuk ke hutan untuk mencari kayu atau membuka lahan, karena ada alternatif ekonomi yang lebih menjanjikan dan ramah lingkungan.
Penggunaan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) di tujuh pekon menjadi fondasi yang sangat krusial. Terlebih dalam penerapan motede ini, melibatkan langsung masyarakat untuk memetakan masalah, potensi dan solusi yang dibutuhkan.
Hasil analisis PRA inilah yang nantinya menjadi pijakan implementasi program. Proses analisis PRA ini tidak hanya menghasilkan data akurat, tetapi juga membangun rasa kepemilikan dan kepercayaan masyarakat terhadap program.
Metode PRA inilah yang nanti mampu menerjemahkan dan menguraikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Sehingga pengelolaan hutan lestari, bisa memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Inisiatif Perkumpulan Ulayat Bengkulu di Suoh merupakan langkah awal yang tepat. Karena dalam praktiknya menawarkan sebuah narasi jika konservasi bukanlah musuh kesejahteraan, melainkan jalan menuju kesejahteraan yang berkelanjutan.

