Kelurahan Kebun Tebeng, Kota Bengkulu
Martian Sugiarto saat memberikan materi PRA kepada peserta Pelatihan Penguatan Kapasitas CO

Dalam setiap upaya pemberdayaan masyarakat, terutama yang bersinggungan dengan isu lingkungan dan konflik satwa liar, pendekatan teknis semata tidak pernah cukup.

Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang realitas sosial, budaya, dan ekonomi komunitas yang hidup di sekitar sebuah kawasan hutan.

Di sini Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Analisis Sosial memegang peranan yang sangat krusial, terutama dalam praktik-praktik pemberdayaan masyarakat.

PRA menjadi pintu masuk utama dalam mengidentifikasi sebuah kondisi. Dalam praktiknya bisa dengan mendengar, melihat dan merasakan langsung denyut nadi masyarakat.

Melalui metode partisipatif seperti pemetaan desa, wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah, PRA memungkinkan tim pendamping menggali pengetahuan lokal yang selama ini mungkin terabaikan.

Sehingga masyarakat tidak lagi menjadi objek penerima program, melainkan subjek yang aktif menceritakan pengalaman mereka. Misal yang terkait dengan konflik antara masyarakat dengan satwa liar.

Identifikasi bisa diawali dengan mendalami titik rawan konflik dengan satwa terjadi, kapan serangan paling sering muncul, tanaman apa yang paling disukai satwa, serta cara tradisional apa yang sudah mereka coba untuk mengusir hewan liar.

Dengan PRA, sebuah program tidak berjalan dalam ruang hampa, tetapi bertumpu pada kearifan dan kebutuhan nyata untuk masyarakat.

Sementara itu, ANSOS (Analisis Sosial) berfungsi sebagai pisau bedah, untuk membaca struktur dan dinamika kekuasaan dalam masyarakat.

Konflik manusia dengan satwa liar jarang murni masalah ekologis semata, hampir selalu ia bersinggungan dengan isu akses lahan, ketimpangan ekonomi, kelemahan kelembagaan desa, hingga rendahnya akses informasi dan pendidikan.

ANSOS membantu mengidentifikasi siapa saja yang paling terdampak, siapa yang memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan, bagaimana relasi antarkelompok masyarakat, serta sejauh mana keterlibatan perempuan dalam mencari solusi.

Tanpa analisis sosial, proyek berisiko salah sasaran atau hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara akar masalah tetap membusuk di bawah permukaan.

Ketika PRA dan ANSOS digabungkan, keduanya membentuk fondasi yang kokoh bagi perencanaan strategis (renstra) yang adaptif dan berpihak pada masyarakat.

Sehingga bisa menghasilkan data empiris dan perspektif masyarakat, sementara analisis sosial memberi kerangka untuk memahami sebab-akibat dan merancang intervensi yang sistemik.

Dengan demikian, PRA dan ANSOS bukan sekadar alat teknis, melainkan sebuah filosofi kerja pemberdayaan yang diawali suara masyarakat dan pemahaman utuh atas realitas sosial yang melingkupinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »