BENGKULU – Sebanyak empat materi pokok disiapkan Ulayat Bengkulu dalam pelatihan penguatan kapasitas Community Organizer (CO), untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi fasilitator program.
Kempat materi tersebut sengaja dirancang secara komprehensif, untuk meningkatkan kompetensi fasilitator lapangan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
Manager Program Ulayat Bengkulu, Rahmat Hidayat menjelaskan, pelatihan ini merupakan bagian integral dari dukungan terhadap program unggulan organisasi, yaitu Mitigasi Konflik Satwa Liar.
Program ini dijalankan melalui pendekatan kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, serta mengedepankan strategi multi usaha kehutanan sebagai solusi berkelanjutan.
“Kami menyadari konflik antara manusia dan satwa liar menjadi tantangan serius di wilayah konservasi. Sehingga penguatan kapasitas para CO menjadi sangat krusial,” ujar Rahmat.
Empat materi yang diberikan dalam pelatihan ini mencakup aspek fundamental yang saling terkait. Materi pertama adalah peningkatan kapasitas CO yang bertujuan memperkuat kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen di lapangan.
Materi kedua berupa pemetaan partisipatif, yang mengajarkan teknik pemetaan wilayah dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat untuk mengidentifikasi zona rawan konflik dan potensi daerah.
Materi ketiga adalah Participatory Rural Appraisal (PRA), pendekatan partisipatif dalam pengkajian kondisi lokasi yang memungkinkan para CO memahami secara mendalam kebutuhan, potensi, dan tantangan yang dihadapi masyarakat.
Sementara itu, materi keempat berupa analisis sosial yang membekali peserta dengan kemampuan menganalisis dinamika sosial, struktur kekuasaan, dan pola interaksi masyarakat dalam konteks pengelolaan sumber daya alam.
Pelatihan ini difokuskan untuk mendukung operasional proyek Ulayat Bengkulu di Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat. Wilayah ini dipilih karena merupakan kawasan dengan tingkat interaksi tinggi antara manusia dan satwa liar.
Rahmat mengharapkan, keempat materi ini dapat menunjang kapasitas tenaga pendamping lapangan dalam melaksanakan tugas-tugas, dan output pekerjaan yang mendukung proyek yang kami jalankan.
“Dengan bekal pengetahuan yang komprehensif, para CO diharapkan mampu menjadi jembatan efektif antara masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya,” harapnya.
Melalui pelatihan ini, Ulayat Bengkulu tidak hanya berinvestasi pada pengembangan individu para CO, tetapi juga membangun fondasi kuat bagi keberlanjutan program mitigasi konflik satwa liar.
Pendekatan multi pihak dan multi usaha kehutanan yang diusung, juga diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara upaya konservasi dan pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan.

